Home Jelajah
Category:

Jelajah

Ilustrasi Gunung Rinjani (Foto: Shutterstock)

Yuk Jelajah – Para pendaki yang berencana menjelajah  keindahan Gunung Rinjani, harus bersabar. Karena gunung setinggi 3.726  mdpl yang berada di Lombok ini, ditutup sejak 01 Januari hingga 31 Maret 2021.

Kabar penutupan dilakukan, seperti tertera dalam unggahan akun resmi Instagram @gunungrinjani_nationalpark, merujuk informasi prakiraan cuaca dari BMKG Stasiun Klimatologi Klas I Mataram.  Bahwa sedang terjadi cuaca ekstrim yang berpotensi angin kencang, hujan lebat serta banjir di Pulau Lombok. Juga dengan alasan  pemulihan ekosistem di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani.


Berikut beberapa jalur yang ditutup, yakni Jalur Pendakian Senaru di Kabupaten Lombok Utara, Jalur Pendakian Sembalun di Kabupaten Lombok Timur, Jalur Pendakian Timbanuh di Kabupaten Lombok Timur, dan Jalur Pendakian Aik Berik di Kabupaten Lombok Tengah.

Baca juga : Menjelajah Gunung Raung yang Esktrem

Dan bagi para pendaki yang akan melakukan kegiatan pendakian mulai tanggal 31 Desember 2020 diwajibkan untuk segera melakukan cek out maksimal tanggal 02 Januari 2021 di masing-masing pintu pendakian.

Salam lestari.

Baca juga

Lihat juga : Kanal Jelajah Yukjelajah.com di Pinterest

(Yuk Jelajah/Jamal Mahfudz)


0 comment
Ilustrasi Gunung Semeru (Foto: Pixabay)

Yuk Jelajah – Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa (3.676 mdpl), kembali meletus pada Sabtu kemarin, 16 Januari 2021. Letusan gunung yang berada di wilayah Kabupaten Lumajang dan Malang ini, bahkan masih terjadi hingga saat ini. 

Informasi meletusnya Gunung Semeru disampaikan oleh Badan Nasional Penanganggulangan Bencana (BNPB) Indonesia.

Baca juga : Aktifitas Pendakian Gunung Semeru Ditutup

Lewat akun Twitter resminya, BNPB Indonesia menyebutkan bahwa telah terjadi awan panas guguran (APG) Gunung Semeru dengan jarak luncur kurang lebih 4,5 KM pada Sabtu (16/1) pkl 17.24 WIB. 


Berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), seperti yang dikutip dalam akun instagram @bbtnbromotenggersemeru, bahwa tingkat aktivitas Gunung Semeru masih ditetapkan pada Level II atau Waspada.

Baca juga : Gunung Prau ‘Istirahat’ Selama 60 Hari

Dengan status Level II atau Waspada, masyarakat setempat dilarang beraktivitas dalam radius 1 kilo meter (Km) dari kawah/ puncak Gunung Semeru dan jarak 4 Km arah bukaan kawah di sektor selatan-tenggara, serta mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/ lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru.

(Yuk Jelajah/Jamal Mahfudz)

Baca juga :

Lihat juga : Kanal Jelajah Yukjelajah.com di Pinterest

0 comment
Tanjakan Sambalado di Gunung Kencana (Foto: Instagram/@gunungkencana)

Yuk Jelajah – Bagi penggiat alam bebas yang menetap di sekitar Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi, dan kangen mendaki gunung yang ngga jauh-jauh, barangkali Gunung Kencana yang berada di kawasan puncak bisa jadi pilihan. Keindahan dan treking-nya juga tidak kalah menarik dari gunung-gunung lain.

Ya, Gunung Kencana yang berketinggian 1.803 meter di atas permukaan laut (mdpl), ini tepatnya terletak di Kampung Rawa Gede, Desa Tugu Utara, Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Gunung yang berdekatan dengan wisata alam Telaga Warna ini ‘bertetangga’ dengan Gunung Tikukur (1.701 mdpl) dan Gunung Luhur (1.702 mdpl). Kedua gunung ini biasanya didaki untuk pendidikan dasar (diksar) atau pendidikan lainnya.

Baca juga : Menjelajahi Sabana Gunung Merbabu yang Eksotis

Gunung Kencana dengan view hamparan kebun teh (Foto: Instagram/@gunungkencana1803mdpl)

Yang menarik di Gunung Kencana, yakni adanya trek Tanjakan Sambalado. Trek ini mengingatkan kita, bahwa ada Tanjakan Cinta di Gunung Semeru, Tanjakan Setan di Gunung Gede atau Tanjakan Penyesalan di Gunung Rinjani. Masing-masing tanjakan berbeda di setiap gunung, dan tentu saja mempunyai cerita unik tersendiri bagi para pendaki yang pernah melintasinya.

Baca juga : Camping di Pondok Saladah, Gunung Papandayan

Tanjakan Sambalado di Gunung Kencana, ketika melintas para pendaki bisa bergoyang sampai pedas hingga keluar keringat. Begitulah kenapa dinamakan Tanjakan Sambalado. Trek ini memiliki  kemiringan sekitar 45 derajat, dan  berbentuk batang kayu dengan diameter seukuran tangan manusia, dan di sisi kanan kiri terdapat pegangan.


Camping di Gunung Kencana (Foto: Instagram/@gunungkencana)

Menerobos Tanjakan Sambalado dengan jarak tempuh sekitar 100 meter ini, memang mengasyikkan. Tanjakan ini bukan sembarang tanjakan, sangat melelahkan juga meniti tangga demi tangga, yang jarak antar anak tangganya cukup tinggi.

Baca juga : Jelajahi Keindahan Gunung Papandayan

Saat berada di puncak Gunung Kencana tampak pemandangan teramat indah. Hamparan hijaunya kebun teh dari kejauhan, terlihat eksotis. Ditambah asyiknya panorama Gunung Gede dan Gunung Pangrango yang terpandang dari ujung Gunung Kencana.

Baca juga :

(Yuk Jelajah/Jamal Mahfudz)

0 comment
Keindahan di ujung Gunung Prau (Foto: Dok. Yuk Jelajah/Jamal Mahfudz)

Yuk Jelajah – Gunung Prau yang berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, sejak 3 Januari hingga 4 Maret 2021 ditutup. Gunung berketinggian 2.565 meter di atas permukaan laut (mdpl) yang terletak di tiga kabupaten yakni Wonosobo, Banjarnegara dan Kendal, ini akan ‘beristirahat’ selama 60 hari.

Gunung Prau atau sering disebut juga Gunung Prahu menutup semua jalur pendakian atas kesepakatan FKPI (Forum Koordinasi Gunung Prau Indonesia) dengan Perhutani. Ini bisa dilihat di akun Instagram @basecamp.prau_igirmranak, pada Senin 21 Desember 2020 lalu.

Baca juga : Siluet di Puncak Gunung Prau


Camping di Gunung Prau (Foto: Dok. Yuk Jelajah/Jamal Mahfudz)

Penutupan gunung favorit para pendaki ini dilakukan dengan mempertimbangkan lima alasan, di antaranya faktor cuaca, pemulihan ekosistem, perbaikan jalur, reboisasi atau penghijauan perawatan, dan pembersihan dari sampah.

(Yuk Jelajah/Jamal Mahfudz)

Lihat juga : Kanal Jelajah Yukjelajah.com di Pinterest

0 comment
Panorama Gunung Bismo (Foto: instagram/gunungbismo)

Yuk Jelajah – Bagi penggiat alam bebas, berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, pasti  mengasyikkan. Banyak gunung yang bisa dijelajah, di antaranya Gunung Prau, Gunung Sikunir, Gunung Pakuwaja dan lainnya.

Salah satu gunung yang tak kalah indahnya dan asyik dirambah adalah Gunung Bismo. Gunung berketinggian 2.365 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini persisnya ‘menancap’ di desa Slukatan, Mojotengah, Wonosobo.  Gunung Bismo memang termasuk gunung ‘baru’ untuk petualangan, diresmikan baru pertengahan tahun 2019.

Baca juga : Camping di Pondok Saladah, Gunung Papandayan

Menyusuri keindahan Gunung Bismo (Foto: instagram/gunungbismo)

Ada beberapa jalur pendakian Gunung Bismo, dan yang kerap dilintasi adalah jalur via Silandak  yang berada di Dusun Silandak. Jalur pendakian Gunung Bismo via Silandak memiliki empat pos pendakian. Keempat pos tersebut yaitu Pos 1 Batas Hutan Dewabrata, Pos 2 Hutan Pakis Ganggaputra, Pos 3 Sigandul Pitamaha, Pos 4 Camp Area Swetaria. Dan  estimasi waktu pendakian kurang lebih selama 4-5 jam tergantung fisik para pendaki.


Berada di puncak Gunung Bismo begitu memesona. Pemandangan di atas awan putih dan gunung-gunung di sekitarnya, sangat  menakjubkan. Tampak gagah berdiri Gunung Sindoro dan Sumbing. Dan indahnya Negeri Di Atas Awan kawasan Dataran Tinggi Dieng tampak memukau dari atas puncak Gunung Bismo.

Baca juga : Jelajahi Keindahan Gunung Papandayan

Melintasi punggung Gunung Bismo (Foto: instagram/gunungbismo)

Tertarik menjelajahi keindahan Gunung Bismo?

Baca juga :

(Yuk Jelajah/Jamal Mahfudz)

0 comment

Jelajah Gunung Slamet

by Yuk Jelajah

 Trek menuju Puncak Gunung Slamet (Foto: Yuk Jelajah/Eka Rahmawati)

Yuk Jelajah – Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah ini memang menantang dijelajah. Medannya kebanyakan terjal dan jarang sekali ‘bonus’ selama pendakian. Tapi jika sudah menggapai puncaknya, rasa lelah selama penjelajahan seakan sirna begitu melihat pemandangan menakjubkan dari ketinggian gunung.

Baca juga : Photo Story : Jelajah Gunung Ungaran di Jawa Tengah

Ya, begitulah Gunung Slamet yang berketinggian 3,428 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dan Slamet kerap masuk dalam daftar gunung yang hendak ditaklukkan para pendaki, karena keindahan dan tantangannya.

Baca juga : Keindahan Gunung Prau

Basecamp Jalur Bambangan (Foto: Yuk Jelajah/Eka Rahmawati)

Gunung yang disebut-sebut sebagai atap Jawa Tengah ini, berdiri kokoh dan ‘merangsek’ di 5 kabupaten sekaligus. Yakni Kabupaten Brebes, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Pemalang, dan Kabupaten Tegal. Gunung Slamet merupakan gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru.

Baca juga : Arung Jeram di Situ Cileunca, Bandung

Melintasi jalur berbatuan  (Foto: Yuk Jelajah/Eka Rahmawati)

Berfoto bersama di puncak  (Foto: Yuk Jelajah/Eka Rahmawati)

Tercatat ada beberapa  jalur pendakian Gunung Slamet, dan paling sering dilintasi adalah Jalur Bambangan di Purbalingga , Jalur Baturaden di Purwokerto dan Jalur Kaliwadas di Brebes. Ada juga beberapa jalur lainnya seperti  Jalur Dipajaya di Pemalang, Jalur Dawuhan Sirampog di Brebes, Jalur Guci dan Jalur Sigendong di Tegal dan lainnya.

Baca juga : Siluet di Puncak Gunung Prau

Puncak Surono di ketinggain 3.428 mdpl (Foto: Yuk Jelajah/Eka Rahmawati)

Gunung Slamet memang amat populer dan selalu saja menarik para penggiat alam bebas untuk menjelajahi keindahan dan kemegahannya. Selalu ada tantangan yang bisa dinikmati saat bertualang dan bisa melepas lelah di ketinggian Gunung Slamet bernama Puncak Surono.

Baca juga :

(Yuk Jelajah/Jamal Mahfudz)

0 comment
Danau Ranu Kumbolo, Gunung Semeru (Foto: Dok. Yuk Jelajah/Lommy Garry Prast)

Yuk Jelajah – Pihak Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) kembali menutup aktifitas pendakian Gunung Semeru. Penutupan gunung di Jawa Timur ini diputuskan sampai 31 Maret 2021. Hal ini dilakukan karena mempertimbangkan kondisi klimatologi yang bisa membahayakan keselamatan para pendaki

Penutupan gunung tertinggi di Pulau Jawa ini. tertuang dalam Surat Pengumuman Nomor PG.10/T.8/BIDTEK/BIDTEK.1/KSA/11/2020, yang diunggah dalam  akun instagram resmi @bbtnbromotenggersemeru. Dalam surat tersebut tertulis penutupan aktivitas pendakian secara total ini berdasarkan peningkatan aktivitas Gunung Semeru berdasarkan laporan yang disampaikan Pos Gunung Api (PGA) di Gunung Sawur Kabupaten Lumajang per Sabtu (28/11/2020).

Baca juga : Keindahan Ranu Kumbolo di Gunung Semeru

Seperti diketahui, saat ini Gunung Semeru meletus hingga menyemburkan guguran lava pijar, dengan jarak mencapai 1.000 meter. Dan akibatnya, ratusan warga yang tinggal di lereng Gunung Semeru harus mengungsi.


Dan dalam unggahan @bbtnbromotenggersemeru, menghimbau untuk bersama-sama mendoakan, “Agar Gunung Semeru lekas pulih dan tetap memprioritaskan keselamatan dan menaati seluruh ketentuan dan peraturan yang berlaku.”

Salam Sehat, Salam Tangguh, Salam Lestari.

(Yuk Jelajah/Jamal Mahfudz)

0 comment
Menikmati saat matahari mulai muncul di aats puncak Gunung Prau (Foto: Yuk Jelajah/Jamal Mahfudz)

Yuk Jelajah – Menikmati panorama di puncak Gunung Prau memang menakjubkan. Apalagi saat pagi hari, ketika matahari mulai muncul. Ini adalah sunrise terbaik bagi para pendaki gunung memandangi siluet.

Ya, gunung Prau memang indah. Dengan ketinggian 2.565 mdpl (di atas permukaan laut), gunung yang berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, ini kerap menjadi destinasi liburan favorit bagi para petualang.

Baca juga : Photo Story : Jelajah Gunung Ungaran di Jawa Tengah

Ketika berada di atas puncak gunung Prau, pemandangan gunung-gunung begitu eksotis. Ada Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Slamet dan Gunung Lawu. Beberapa gunung ini, saat cuaca cerah menjadi pemandangan yang indah dari atas puncak Gunung Prau.

Berikut foto-foto siluet ketika berada di puncak Gunung Prau.

Menikmati pagi di atas puncak Gunung Prau di dekat tenda (Foto: Yuk Jelajah/Jamal Mahfudz)

Sunrise dengan latar belakang foto Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing (Foto: Yuk Jelajah/Jamal Mahfudz)

Baca juga : Menjelajah Gunung Raung yang Esktrem

Pagi hari di Gunung Prau (Foto: Yuk Jelajah/Jamal Mahfudz)

Baca juga :

(Yuk Jelajah/Jamal Mahfudz)

0 comment
Pondok Saladah di Gunung Papandayan, Garut (Foto: Yuk Jelajah/Jamal Mahfudz)

Yuk Jelajah – ‘Ngecamp’ atau berkemah di Pondok Saladah yang berada di punggung Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat, di ketinggian 2.288 meter di atas permukaan laut (mdpl), bukan main dinginnya. Apalagi saat malam hari, meski sudah meringkuk dalam tenda dan memakai sleeping bag, dinginnya tetap saja menembus kulit.

Camping ground seluas 8 hektar ini memang menjadi lokasi favorit para pendaki yang mendaki Gunung Papandayan dengan ketinggian 2.665 mdpl ini. Area yang banyak ditumbuhi bunga edelweiss ini semakin asyik dengan kehadiran air bersih yang berasal dari sungai Cisaladah. Sebuah sungai yang airnya mengalir sepanjang tahun.

Baca juga : Jelajahi Eksotisnya Gunung Merbabu

Pagi hari di Hutan Mati (Foto: Yuk Jelajah/Jamal Mahfudz)

Konon, kenapa lokasi ini disebut Pondok Saladah, karena kawasan ini banyak ditumbuhi pohon salada yang tumbuh subur dan liar di aliran air dan selokan-selokan kecil di sekitaran sana. Tumbuhan yang sering dimakan mentah dan dijadikan lalapan oleh masyarakat Garut dan sekitarnya.

Baca juga : Arung Jeram di Situ Cileunca, Bandung

Selfi (Foto: Yuk Jelajah/Jamal Mahfudz)

Melintasi ujung Hutan Mati (Foto: Yuk Jelajah/Jamal Mahfudz)

Area menarik lainnya di gunung ini adalah kawasan Hutan Mati yang terletak bersebelahan dengan Pondok Saladah. Di Hutan Mati ini terdapat pemandangan pohon-pohon yang kering tanpa daun dan beberapa pohon cantigi. Bahkan, sudah terlihat menghitam. Meskipun terkesan agak suram dan sedikit berkabut, tapi Hutan Mati tetap saja memiliki daya tarik tersendiri. Pesona kesuraman pohon-pohon kering berpadu dengan hamparan tanah putih ini menjadi pemandangan yang indah.

Baca juga : Jelajah Gunung Merapi

Edelweis di Pondok Saladah (Foto: Yuk Jelajah/Jamal Mahfudz)

Tertarik camping di Pondok Saladah?

Baca juga :

(Yuk Jelajah/Jamal Mahfudz)

0 comment
Arung jeram di Situ Cileunca, Pangalengan, Bandung (Foto: cileunca-rafting.com)

Yuk Jelajah – Kawasan Jawa Barat memang banyak objek wisata ekstrem. Kalian bisa mendaki gunung, memanjat tebing, terbang paralayang dan lain sebagainya. Dan salah satu wisata yang juga ‘berbahaya’ dan disukai para penggiat alam bebas adalah arung jeram.

Menyusuri derasnya arus sungai dengan perahu karet, lantas menjumpai turunan tajam, sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa. Seringkali menegangkan, seru dan sekaligus juga mengasyikkan.

Baca juga : Menjelajah Gunung Raung yang Esktrem

Nah, bagi yang mau menjajal wisata yang memacu adrenalin ini, bisa mencoba arung jeram di Situ Cileunca, Pangalengan, Bandung. Kawasan wisata yang berada di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini, memiliki tingkat kesulitan kelas  3- 4. Dan bagi wisatawan yang belum pernah ber-arung jeram, tidak perlu khawatir. Karena akan dibantu beberapa petugas arung jeram yang sudah sangat terlatih dan berpengalaman.

Baca juga : Photo Story Jelajah Gunung Ceremai

Mengarungi derasnya air begitu seru dan mengasyikkan (Foto: cileunca-rafting.com)

Sembari mengarungi jeram para wisatawan bisa menyaksikan pemandangan alam yang indah. Dengan di kelilingi dataran tinggi perkebunan teh, panorama alam Situ Cileunca begitu sejuk.  Sumber air yang menggenangi 180 hektar Situ Cileunca berasal dari Situ Panunjang yang ukurannya lebih besar dari Situ Cileunca dan pembuangan air dari situ dialirkan melalui sungai Palayangan.

Baca juga : Photo Story : Jelajah Gunung Ungaran di Jawa Tengah

Menyusuri derasnya arus sungai dengan perahu karet (Foto: cileunca-rafting.com)

Arung jeram Situ Cileunca memang keren. Wisata antimainstream ini bisa menjadi salah satu pilihan aktifitas seru untuk berlibur.

(Yuk Jelajah/Jamal Mahfudz)

0 comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Baca selanjutnya

Privacy & Cookies Policy